Beutong Ateuh dulunya adalah sebuah kawasan terpencil yang sering terabaikan dan jarang terakses oleh pemilik wilayah sang Kabupaten Nagan Raya. Masyarakat Beutong Ateuh walapun ber-KTP Nagan Raya, lebih sering berinteraksi dengan Kabupaten Aceh Tengah. Sembako dan barang lainnya sering dipasok dari Takengon dan sekitarnya. Karena alasan lebih mudah diakses jalannya dibandingkan ke Ulee Jalan kota kecamatan terdekat dari Beutong Ateuh.
Setelah perjuangan maha panjang Beutong Ateuh dengan 4 (empat) gampongnya berhasil melahirkan sebuah kecamatan Beutong Ateuh Benggala. Benggala/Banggalang: Diambil dari nama raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Beutong, yaitu Teuku Peusunu yang dikenal dengan gelar Teuku Raja Beutong Benggala (atau Teuku Beutong Banggalang). Jadi, Beutong Ateuh Benggala artinya adalah wilayah Beutong Ateuh yang didirikan oleh Raja Beutong Benggala. Pernah dikisahkan juga Beutong Ateuh sebagai wilayah pertahanan terakhir Cut Nyak Dhien dalam melawan Belanda sebelum dia ditawan dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.
Dengan sejarah panjangnya tersebut, Beutong Ateuh bukanlah sekedar hamparan lembah dan pegunungan pertanian yang subur dengan segala lanskap yang luas, gemah ripah loh jinawi. Malahan ada kalimat satire untuk kawasan Beutong Ateuh yang dianggap sebagai produsen ganja terbesar dan terbagus di Aceh, dimana kalau mau menanam ganja di Beutong Ateuh cukup hanya menebang kayu-kayu besar dan membersihkan lahan lalu menunggu 6 (enam) bulan, dimana ganja akan tumbuh sendiri, dan eng.. ing.. eng ... panen dah ganja tersebut. Begitulah ungkapan satire tentang suburnya kawasan Beutong Ateuh tersebut.
Ketika akses sudah terbuka secara secara masif, kawasan Beutong Ateuh mulai berbenah dengan perlahan-lahan, Masyarakatnya semakin terbuka menerima orang luar dan juga mulai berbenah dengan beragam pola kehidupan. Meninggalkan pola lama, ganja pun semakin terabaikan dari budaya dan kehidupan masyarakat ini. Namun semakin terbuka masyarakat semakin banyak yang merasa memiliki, bkan hanya penduduk loka lagi akan tetapi juga penduduk dari luar pun sudah merasa harus melakukan untuk Beutong Ateuh. Sehingga masyarakat asli sering diabaikan dalam setiap keputusan yang akan berimbas terhadap kehidupan mereka.
Wacana investasi semakin sering didengungkan oleh Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, pemberian IUP dan izin-izin yang merambah wilayah Beutong Ateuh semakin banyak dikeluarkan, dan izin-izin ini tidak mempertimbangkan kebutuhan dan keuntungan bagi warga Beutong Ateuh. Izin-izin usaha ini kebanyakan adalah izin usaha tambang, yang akan memberi peluang bagi pengusaha untuk mengeksplorasi kawasan ini secara masif dan brutal.
Dan apa yang terjadi, masyarakat Beutong Ateuh menolak segala IUP ini yang berbalut kata investasi. Masyarakat mulai dibenturkkan sesama mereka yang menolak dengan yang mendukung IUP ini. Pola intimidasi juga dilakukan dengan slogan mempertahankan investasi untuk kemajuan Nagan Raya yang katanya mencapai 200 Trilyun. Sungguh ironi dengan pemerintahan baru dibawah Pemerintahan TRK dan Raja Sayang dimana Kabupaten Nagan Raya yang menginginkan percepatan invetasi tanpa mempertimbangkan masyarakat yang semakin cerdas. Masyarakat Beutong Ateuh barusan mengalami bencana banjir maha dahsyat, lalu dibentur-bentur lagi dengan investasi ini itu. Sungguh mereka khawatir dengan investasi-investasi ini yang kebanyakan merambah hutan dan tambang yang berakibat jelaek kepada mereka dan wilayah Beutong Ateuh, jadi mereka melawan.
Dan ternyata usaha untuk mematahkan semangat rakyat dalam menolak segala IUP ini, pemerintah dan perusahaan mengeluarkan segala usaha daya upaya mereka untuk mempertahankan ini dengan mengundang buzzer medsos sampai buzzer yang dibaluri kata sebagai ahli ekonomi dan lain sebagainya untuk membuat opini dalam rangka mematahkan semangat penolakan masyarakat Beutong Ateuh terhadap izin-izin ini. Dan juga mungkin juga Termasuk sebahagian anggota DPRK yang mungkin tidak mau terlibat dalam memperjuangkan keinginan dan aspirasi masyarakat Beutong Ateuh.
Beberapa teman-teman aktivis melaporkan mereka merasa tidak aman dalam meperjuangkan aspirasi masyarakat Beutong Ateuh ini, bahkan dalam beberapa group whatsapp mereka merasa dilecehkan secara verbal oleh anggota DPRK tentang tuntutan mereka. Jadi bukan mereka membantu masyarakat Beutong Ateuh atau para pendukung mereka malahan menjadi anjing penjilat para pengusaha perusak lingkungan di Nagan Raya. Sadar atau tanpa sadar mereka telah menjadi pendukung perusahaan dan menjdai pecundang bagi masyarakat pemilih mereka. Semoga mereka kembali sadar dan bisa bertaubat, kalaupun mereka tidak mau berdiri di depan, setidaknya dukunglah aspirasi masyrakat ini secara elegan dan bermartabat.
Harapan Ampon dalam kasus ini, pertimbanglah dengan bijak keinginan masyarakat dan warga Beutong Ateuh, jangan dibentur-benturkan mereka dengan membuat demo tandingan dan atau mengintimidasi mereka lewat tangan-tangan pemilik kekuasaan. Beri mereka pengetahuan tentang investasi dengan bijak, mereka akan bisa sadar mana yang betul-betul bisa dimanfaatkan untuk mereka dan Nagan Raya. sehingga mereka tidak larut dalam kebodohan dan kemiskinan yang dipelihara.
Salam, Ampon Nagan
Setelah perjuangan maha panjang Beutong Ateuh dengan 4 (empat) gampongnya berhasil melahirkan sebuah kecamatan Beutong Ateuh Benggala. Benggala/Banggalang: Diambil dari nama raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Beutong, yaitu Teuku Peusunu yang dikenal dengan gelar Teuku Raja Beutong Benggala (atau Teuku Beutong Banggalang). Jadi, Beutong Ateuh Benggala artinya adalah wilayah Beutong Ateuh yang didirikan oleh Raja Beutong Benggala. Pernah dikisahkan juga Beutong Ateuh sebagai wilayah pertahanan terakhir Cut Nyak Dhien dalam melawan Belanda sebelum dia ditawan dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.
Dengan sejarah panjangnya tersebut, Beutong Ateuh bukanlah sekedar hamparan lembah dan pegunungan pertanian yang subur dengan segala lanskap yang luas, gemah ripah loh jinawi. Malahan ada kalimat satire untuk kawasan Beutong Ateuh yang dianggap sebagai produsen ganja terbesar dan terbagus di Aceh, dimana kalau mau menanam ganja di Beutong Ateuh cukup hanya menebang kayu-kayu besar dan membersihkan lahan lalu menunggu 6 (enam) bulan, dimana ganja akan tumbuh sendiri, dan eng.. ing.. eng ... panen dah ganja tersebut. Begitulah ungkapan satire tentang suburnya kawasan Beutong Ateuh tersebut.
Ketika akses sudah terbuka secara secara masif, kawasan Beutong Ateuh mulai berbenah dengan perlahan-lahan, Masyarakatnya semakin terbuka menerima orang luar dan juga mulai berbenah dengan beragam pola kehidupan. Meninggalkan pola lama, ganja pun semakin terabaikan dari budaya dan kehidupan masyarakat ini. Namun semakin terbuka masyarakat semakin banyak yang merasa memiliki, bkan hanya penduduk loka lagi akan tetapi juga penduduk dari luar pun sudah merasa harus melakukan untuk Beutong Ateuh. Sehingga masyarakat asli sering diabaikan dalam setiap keputusan yang akan berimbas terhadap kehidupan mereka.
Wacana investasi semakin sering didengungkan oleh Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, pemberian IUP dan izin-izin yang merambah wilayah Beutong Ateuh semakin banyak dikeluarkan, dan izin-izin ini tidak mempertimbangkan kebutuhan dan keuntungan bagi warga Beutong Ateuh. Izin-izin usaha ini kebanyakan adalah izin usaha tambang, yang akan memberi peluang bagi pengusaha untuk mengeksplorasi kawasan ini secara masif dan brutal.
Dan apa yang terjadi, masyarakat Beutong Ateuh menolak segala IUP ini yang berbalut kata investasi. Masyarakat mulai dibenturkkan sesama mereka yang menolak dengan yang mendukung IUP ini. Pola intimidasi juga dilakukan dengan slogan mempertahankan investasi untuk kemajuan Nagan Raya yang katanya mencapai 200 Trilyun. Sungguh ironi dengan pemerintahan baru dibawah Pemerintahan TRK dan Raja Sayang dimana Kabupaten Nagan Raya yang menginginkan percepatan invetasi tanpa mempertimbangkan masyarakat yang semakin cerdas. Masyarakat Beutong Ateuh barusan mengalami bencana banjir maha dahsyat, lalu dibentur-bentur lagi dengan investasi ini itu. Sungguh mereka khawatir dengan investasi-investasi ini yang kebanyakan merambah hutan dan tambang yang berakibat jelaek kepada mereka dan wilayah Beutong Ateuh, jadi mereka melawan.
Dan ternyata usaha untuk mematahkan semangat rakyat dalam menolak segala IUP ini, pemerintah dan perusahaan mengeluarkan segala usaha daya upaya mereka untuk mempertahankan ini dengan mengundang buzzer medsos sampai buzzer yang dibaluri kata sebagai ahli ekonomi dan lain sebagainya untuk membuat opini dalam rangka mematahkan semangat penolakan masyarakat Beutong Ateuh terhadap izin-izin ini. Dan juga mungkin juga Termasuk sebahagian anggota DPRK yang mungkin tidak mau terlibat dalam memperjuangkan keinginan dan aspirasi masyarakat Beutong Ateuh.
Beberapa teman-teman aktivis melaporkan mereka merasa tidak aman dalam meperjuangkan aspirasi masyarakat Beutong Ateuh ini, bahkan dalam beberapa group whatsapp mereka merasa dilecehkan secara verbal oleh anggota DPRK tentang tuntutan mereka. Jadi bukan mereka membantu masyarakat Beutong Ateuh atau para pendukung mereka malahan menjadi anjing penjilat para pengusaha perusak lingkungan di Nagan Raya. Sadar atau tanpa sadar mereka telah menjadi pendukung perusahaan dan menjdai pecundang bagi masyarakat pemilih mereka. Semoga mereka kembali sadar dan bisa bertaubat, kalaupun mereka tidak mau berdiri di depan, setidaknya dukunglah aspirasi masyrakat ini secara elegan dan bermartabat.
Harapan Ampon dalam kasus ini, pertimbanglah dengan bijak keinginan masyarakat dan warga Beutong Ateuh, jangan dibentur-benturkan mereka dengan membuat demo tandingan dan atau mengintimidasi mereka lewat tangan-tangan pemilik kekuasaan. Beri mereka pengetahuan tentang investasi dengan bijak, mereka akan bisa sadar mana yang betul-betul bisa dimanfaatkan untuk mereka dan Nagan Raya. sehingga mereka tidak larut dalam kebodohan dan kemiskinan yang dipelihara.
Salam, Ampon Nagan
Comments